|
Menjelang Pemilu 2009, kritik terhadap kepemimpinan nasional terus disuarakan. Kali ini, calon presiden dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Wiranto, mengkritik kembali isu kesejahteraan rakyat yang dianggap masih jalan di tempat. Saat ini, Indonesia membutuhkan pemimpin yang berorientasi kepada rakyat, kata Wiranto usai diskusi ''Mencari Sosok Pemimpin Ideal'' di Jakarta, Sabtu (29/3) kemarin.
Menurutnya, dia dan partai yang dipimpinnya sedang sibuk melakukan konsolidasi ke dalam organisasi partai dan mensosialisasikan tujuan partai. Visi yang dikedepankan, kata mantan Panglima TNI ini, adalah kemandirian dan kesejahteraan rakyat. Karena itu, aku dia, konsentrasinya lebih kepada menumbuhkan eksitensi partai, belum fokus pada mencari pasangan untuk maju dalam Pemilu Presiden/Wapres.
Sampai saat ini belum masuk wacana itu. ''Saya sedang konsentrasi pada masalah verifikasi lalu eksistensi pada saya,'' kata Wiranto.
Sementara, capres dari Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, yang juga hadir sebagai pembicara mengatakan kepemimpinan nasional yang saat ini dipegang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hendaknya lebih terkonsentrasi mengurusi kinerja pemerintahan. Untuk itu, mantan Mensekneg ini menyarankan agar SBY melakukan harmonisasi dan komunikasi informal dengan lembaga-lembaga negara.
Ia mencontoh, penolakan Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh DPR karena kurangnya harmonisasi dan komunikasi politik pemerintah dengan DPR. Yusril meminta SBY perlu berdialog dengan DPR tentang calon Gubernur BI sebelum secara resmi mengajukan nama pengganti. DPR sendiri memberi batas waktu kepada presiden sebelum 1 April sudah menyerahkan nama calon Gubernur BI pengganti Agus Martowardoyo dan Raden Pardede yang telah ditolak DPR.
Ia meyakini jika Presiden melakukan pendekatan informal dengan DPR, maka pengajuan nama calon Gubernur BI tidak akan menemui kendala lagi. ''Ini masalah seni politik, yaitu bagaimana meyakinkan anggota DPR melalui pembicaraan dan pendekatan,'' terangnya.
Seperti diketahui, Presiden SBY telah mengundang sejumlah tokoh, pengamat ekonomi, pengusaha termasuk Gubernur BI yang kini berstatus tersangka kasus aliran dana BI oleh KPK. Mereka dimintai masukan mengenai nama calon Gubernur BI yang akan diusulkan ke DPR. Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tokoh memunculkan dua nama yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko Perekonomian Boediono untuk mengisi Gubernur BI. Dua nama ini dianggap memahami dan berpengalaman di bidang kebijakan moneter, pengaturan perbankan dan dikenal dunia internasional.(balipost.co.id) |