|
Oleh: Ahmad Jauhari
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006, selama beberapa hari pada akhir Juli hingga awal Agustus 2008 menghiasi banyak media cetak Indonesia. Kehadiran pendiri Grameen Bank untuk orang miskin Bangladesh di Indonesia ini memang memang banyak memberikan inspirasi, terutama terkait dengan pemberian kredit mikro guna memberdayakan masyarakat miskin. Pendapat Muhammad Yunus yang menarik adalah bahwa kemiskinan terkait dengan berbagai permasalahan kehidupan lainnya. Dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo, 10 Desember 2006, Muhammad Yunus mengemukakan bahwa perdamaian harus dipahami secara manusiawi – dalam lingkup sosial, politik, dan ekonomi secara luas. Perdamaian terancam oleh tatanan ekonomi, sosial, dan politik yang tidak adil, oleh absennya demokrasi, rusaknya kualitas lingkungan hidup, dan oleh absennya hak asasi manusia.
Penciptaan kesempatan bagi sebagian besar kaum miskin terletak di inti kerja pengabdian. Terlibat dalam masalah kemiskinan karena kemiskinan ada di mana-mana. Pada tahun 1974, saya merasa sulit mengajarkan teori ekonomi yang elegan di ruang kelas universitas dengan latar bencana kelaparan yang mengenaskan di Bangladesh. Muhammad Yunus mengaku mendadak merasakan kosongnya teori ekonomi di hadapan kelaparan dan kemiskinan yang meluluhlantakkan. Banyak hal yang ingin diperbuatnya secara langsung untuk menolong orang di sekitar, sekalipun satu manusia saja, untuk dapat melewati satu hari lagi dengan sedikit lebih lega. Hal tersebut membawanya berhadapan dengan perjuangan kaum miskin untuk dapat mencari sejumlah kecil uang buat menopang upaya mereka mencari penghidupan. Diungkapkan keterperanjatannya mendapati seorang perempuan desa meminjam kurang dari 1 dollar AS dari seorang rentenir, dengan syarat bahwa si rentenir memegang hak eksklusif untuk membeli semua yang dihasilkan si perempuan itu dengan harga yang ditetapkan si rentenir. Bagi Muhammad Yunus, hal tersebut adalah cara membeli budak belian. Akhirnya diputuskan untuk membuat daftar korban “bisnis” rentenir tersebut di desa yang bersebelahan dengan kampus di mana Muhammad Yunus mengajar mahasiswanya. Ketika daftar telah rampung dibuat, ada nama 42 korban yang pinjaman totalnya 27 dollar AS. Muhammad Yunus mengeluarkan 27 dollar AS dari koceknya sendiri untuk membebaskan para korban tersebut dari cengkeraman rentenir. Kegembiraan yang timbul di kalangan orang-orang itu oleh langkah sederhana tersebut membuat Muhammad Yunus terlibat makin jauh ke dalamnya. Muhammad Yunus mengaku bahwa bila dirinya dapat membuat begitu banyak orang bahagia dengan uang yang begitu sedikit, mengapa tidak berbuat lebih banyak lagi? Inilah yang berusaha dia lakukan sejak itu. Hal pertama yang dilakukan Muhammad Yunus adalah mencoba membujuk bank yang berlokasi di kampus untuk meminjamkan uang pada kaum miskin. Bank bilang kaum miskin tidak layak diberi kredit. Setelah semua jerih payah yang dilakukan Muhammad Yunus selama beberapa bulan gagal, dia menawarkan diri untuk menjadi penjamin bagi kaum miskin ini. Muhammad Yunus terkesima oleh hasilnya. Orang miskin ini membayar kembali pinjamannya, selalu tepat waktu. Namun Muhammad Yunus tetap menemui kendala dalam memperluas program ini lewat bank-bank yang ada. Saat itulah diamemutuskan untuk mendirikan bank tersendiri bagi kaum miskin, dan pada tahun 1983, akhirnya Muhammad Yunus berhasil melakukannya. Bank yang didirikannya diberi nama Grameen Bank atau Bank Pedesaan. Pada pidato penerimaan Hadian Nobel Perdamaian 2006 tersebut dilaporkan bahwa Grameen Bank telah memberikan kredit ke hampir 7 juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen di antaranya perempuan. Grameen Bank memberi kredit bebas agunan untuk mata pencahariaan, perumahan, sekolah, dan usaha mikro untuk keluarga-keluarga miskin dan menawarkan setumpuk program tabungan yang atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Grameen Bank lahir sebagai proyek rumahan kecil-kecilan yang dijalankan dengan bantuan para mahasiswa, semuanya berasal dari daerah setempat. Gagasan ini, yang bermula di Jobra, sebuah desa kecil di Bangladesh, telah menyebar ke seluruh dunia dan sekarang ada program-program mirip Grameen di hampir semua negara. Kaum perempuan yang menjadi peminjam Grameen Bank selalu memprioritaskan anak-anak mereka. Salah satu dari Keputusan Enambelas yang dikembangkan dan dipatuhi oleh mereka sendiri adalah keharusan menyekolahkan anak-anaknya. Grameen Bank mendorong mereka, dan tak sampai lama seluruh anak-anak itu sudah bersekolah. Banyak dari anak-anak ini berhasil mencapai peringkat satu di kelasnya. Grameen Bank ingin merayakan itu, maka kemudian diperkenalkan beasiswa untuk siswa berbakat. Grameen Bank kini memberi 30.000 beasiswa setiap tahunnya. Diharapkan pada tahun 2010, 100 persen keluarga miskin dapat terjangkau oleh Grameen Bank. Tiga tahun lalu kami memulai program eksklusif yang berfokus pada pengemis. Bagi mereka tak diterapkan satupun aturan Grameen Bank. Peminjamnya bebas bunga, mereka dapat membayar berapa saja, kapan saja. Kami beri mereka ide untuk membawa dagangan kecil-kecilan seperti jajanan, mainan, atau barang rumah tangga saat mereka pergi dari satu rumah ke rumah untuk mengemis. Grameen Bank mendorong dan mendukung langkah intervensi apapun yang mungkin untuk membantu kaum miskin berjuang keluar dari kemiskinan. Grameen Bank selalu mengadvokasikan kredit mikro selain semua bentuk intervensi lainnya, dengan argumen bahwa kredit mikro membuat intervensi-intervensi itu berjalan lebih baik.* |