Kerja Keras
Jumat, 19 September 2008

Oleh: Ir. Ahmad Jauhari, MSi
Islam mengajarkan kepada umatnya agar bersemangat dalam berusaha dan selalu bekerja keras untuk meraih yang diharapkannya. Islam tidak menyukai umatnya yang hanya bermalas-malasan dan selalu berkhayal mengharapkan hujan emas dari langit. Islam melarang umatnya berjudi, membeli nomor “buntut” dengan harga sedikit kemudian bermalas-malasan dan berkhayal mengharapkan hadiah besar.

Dalam sebuah Hadist ditegaskan perlunya umat Islam bersemangat dalam berusaha dan selalu bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan dunia dan akherat yang lebih baik. “Bekerjalah kamu untuk kehidupan duniamu, seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Dan beramallah kamu untuk kehidupan akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.” (HR Ibnu Asakir).
Ajaran Islam tentang semangat berusaha dan kerja keras sebenarnya mengandung sejumlah rahasia dan pesan moral yang dapat dipetik. Pertama, Islam menghendaki agar kehidupan umat manusia menjadi tertib dan teratur, baik dalam masalah ibadah maupun dalam masalah muamalah. Dalam masalah ibadah shalat, maka agama Islam sangat menghendaki agar umatnya dapat melaksanakannya dengan penuh disiplin dan tertib waktu.
Kedua, berkaitan dengan perlunya semangat berusaha dan kerja keras bagi umat Islam, karena Islam menghendaki umatnya menjadi lebih tangguh, baik dari segi ekonomi maupun dalam segi yang lainnya, sehingga menjadi terhormat di mata umat yang lain. Umat Islam berpotensi menjadi umat yang besar dan kuat jika semua umat pemeluknya bekerja keras baik untuk urusan dunia dan akherat. Umat Islam pernah meraih kejayaan ketika semua pemeluknya bekerja keras mengembangkan ilmu pengetahuan, perekonomian, kebudayaan serta politik yang santun dan berkeadilan.
Ketiga, bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak akan merobah nasib seseorang yang bermalas-malasan menjadi lebih baik, kecuali orang tersebut mau merobahnya dengan cara bekerja lebih giat dan lebih keras serta tidak hanya bertopang dagu. Islam membenci umatnya yang hanya memperpanjang angan-angan, seraya berkhayal untuk memperoleh jatuhnya emas dari langit.
Keempat, sesungguhnya Islam tidak menyukai umatnya karena malas dan suka menyia-nyiakan waktu hidupnya sehingga menjadi umat peminta-minta, selalu mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Dalam agama Islam diajarkan bahwa “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. Artinya, para dermawan yang suka memberi lebih baik dari para pengemis yang hanya meminta-minta.
Seseorang yang lebih suka meminta-minta kepada orang lain, termasuk para pejabat pemerintah yang suka meminta-minta upeti dari bawahannya, sementara pada dirinya ada kemampuan untuk berusaha dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, maka sungguh sangat tercela menurut pandangan Islam.*
• Penulis aktivis masjid, peneliti dan dosen, tinggal di Jakarta ( Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya )