Berita
30
May
2013

Selamat Jalan Zainal Nurrizki

Kabar duka yang menimpa keluarga Ketua Umum Partai Hanura menimbulkan banyak dugaan tidak berdasar yang beredar di masyarakat sedari kemarin. Pada acara pengajian yang digelar keluarga Wiranto di kediamannya Jalan Palem Kartika No. 21, Bambu Apus, Jakarta semalam (29/5), Wiranto menjelaskan banyak hal terkait Putra terakhirnya, Zainal Nurrizki.

Menurut Wiranto, anaknya sempat mengalami demam sebelum meninggal. "Dua hari lalu, penyakitnya demam, jadi memang hampir sepertiga mahasiswa disana kena demam, emang musimnya lagi dingin."

Awalnya deman yang dialami Zainal dianggap demam biasa. Namun karena tak kunjung sembuh, Zainal terpaksa harus di rawat di rumah sakit. "Dikirain demam biasa, ternyata agak parah. Kemudian masuk RS, setelah dua hari di RS, kami pun harus merelakan menghadap ke kuasa," ujar Wiranto.

Zainal Lahir di Gorontalo, 8 Maret 1990. Anak bungsu dari 3 bersaudara ini lebih banyak mengenyam masa pendidikan di Jakarta. Inal kecil belajar di SD Al Azhar, setelah itu dia melanjutkan ke SMP Sudirman. Di tengah perjalanan masa SMP, Zainal pindah ke Sentul Boarding School. Masa SMA dihabiskannya untuk bersekolah di SMA Lab School Rawamangun.

Wiranto bercerita, Zaenal sebelumnya sempat kuliah di UGM jurusan Hukum Internasional. Namun baru satu semester dia kembali ke Jakarta karena ingin memperdalam ilmu agama. Akhirnya Zaenal menemukan lembaga pendidikan tinggi di Afsel. Di sekolah itu anak-anak dari seluruh dunia berkumpul untuk memperdalam ilmu Alquran dan Islam.

"Akhirnya Ia ambil keputusan bahwa Ia lebih baik dalami agama dulu, merasa ada yang salah selama ini dalam hidupnya. Ia minta izin untuk pindah ke sekolah agama. Lalu mencari tempat belajar agama terbaik untuk pendalamam Alquran," jelasnya.

"Dalam satu setengah tahun lalu sudah mulai belajar bahasa urdu dan Arab. Inggrisnya pun sudah mahir," tuturnya.

Oleh sebab itu Wiranto menilai anaknya meninggal dalam keadaan mulia. "Ia pun meninggal dalam keadaan mulia, anak kami lagi belajar Alquran. Katakanlah ia meninggal dalam fisabilillah dan husnul khotimah," ujar Wiranto.

Zainal sempat pulang ke tanah air untuk mengurus perpanjangan visanya sebelum meninggal di Afrika Selatan. Zainal bahkan sempat mencuci kaki kedua orang tuanya. "Ketika di rumah, dia minta untuk mencuci kaki saya dan istri," kenangnya.

Putra bungsu Wiranto tersebut ternyata juga pandai berpuisi. Wiranto sendiri baru mengetahui anaknya pandai puisi setelah ditemukan kumpulan puisi milik anaknya tersebut. "Saya baru tahu ananda (Zainal) pandai membuat puisi setelah wafat."

Wiranto mengatakan, kumpulan puisi tersebut ditemukan oleh sang kakak di laptop Zainal. Puisi-puisi tersebut bertema kehidupan. "Ada banyak puisi tentang kehidupan. Salah satunya tentang cinta dan kematian, perpisahan, dan renungan dirinya," paparnya.

Sementara sang istri, Uga Usman, bercerita tentang kenangan terhadap anaknya, Zainal, yang baru menikah bulan Maret 2013 lalu di Afrika Selatan, "Pada saat dia memilih menikah, istrinya usia 15 tahun, mereka belum pernah bertemu, belum pernah melihat mukanya, rela untuk dimintakan orang tua melamar istrinya. Baru saja menikah kemarin. Itu yang membuat saya terhibur, dia sudah sempurna, dari kecil dewasa dan sempat melaksanakan menikah."

"Dia senang nyanyi, baca puisi dan baca Al qur'an. Meski belum hafal Al qur'an, dia setiap hari menghafal hadis-hadis, dia juga belajar bahasa urdu dan arab," kenang istri purnawirawan TNI itu.

Wiranto dan istri sudah mengikhlaskan kepergian Zainal. Wiranto meminta doa agar anaknya diampuni dosa-dosanya. "Kita ikhlaskan dirawat kesana, oleh saudara-saudara kita dimakamkan di Afsel di LENAsia, Johannesburg. Malam ini kami doakan, almarhum supaya dapat diampuni dosa-dosanya dan diterima di sisi Allah SWT."

Sementara itu menurut sahabat dekat keluarga Wiranto yang juga Ketua DPP Hanura, Yuddy Chrisnandi, Wiranto ditelepon kemarin malam pukul 01.00 WIB dan ditanya soal jenazah putranya. Menurut Yuddy, sosok Wiranto bukanlah seseorang yang ingin menggunakan popularitas dan aksesnya untuk mempermudah sebuah urusan, walaupun situasi memungkinkan. “Dia ditanya mau dipulangkan atau bagaimana. Kalau dipulangkan merepotkan Kedubes, harus diformalin. Pertimbangan kemanusiaan, teknis, dan lain-lain akhirnya disegerakan saja. Pak Wiranto memutuskan dimakamkan di sana," kata Yuddy.

Ketika ditanya rencana untuk segera terbang ke Afrika Selatan, Yuddy menjelaskan, “Bapak dan Ibu rencananya akan ke Afsel tapi tidak dalam waktu dekat karena harus mengurus banyak surat-surat seperti visa dulu."

Tag: wiranto, zainal nurrizki, putra wiranto, uga wiranto, keluarga wiranto

Copyright © 2012 Partai Hanura - All Rights Reserved